Minggu, Maret 29, 2009

Resiko dalam Forex Trading

Forex trading tergolong sebagai investasi yang sifatnya high risk. Artinya forex trading
tergolong memiliki resiko tinggi. Salah satu yang tertinggi diantara instrumen investasi
keuangan lainnya.

Faktor resiko yang harus Anda ketahui sebelum memulai forex trading :
· Memiliki kemungkinan kehilangan dana 100%
· Arus dana sangat cepat (very liquid)
· Tidak ada metode trading yang dapat menjamin Anda pasti untung 100%. Ada banyak
metode trading yang bagus namun tidak ada satu pun yang dapat menjamin pasti untung
100%

Forex trading bukanlah sebuah “quick rich scheme” yang dapat membuat Anda kaya
mendadak tanpa harus bekerja keras. Tidak ada keberhasilan tanpa kerja keras. Kerja
keras merupakan bagian yang tak terpisahkan dari mereka yang mengalami kesuksesan
finansial dalam hidupnya. Termasuk mereka yang sukses melalui forex trading.
Diperlukan kerja keras untuk mempelajari analisa dan perilaku pasar sehingga kita dapat
menebak arah pergerakan harga dengan akurat. Begitu juga diperlukan mental ekstra
ketika hasil trading tidak sesuai dengan yang kita harapkan.
Tanyakanlah pada trader-trader sukses yang Anda kenal, apakah mereka pernah
mengalami jatuh bangun dalam trading mereka. Dan jawabannya hampir pasti adalah
“ya”. Kesuksesan hanyalah disediakan bagi mereka yang mau berusaha dan belajar terus
menerus meperbaiki dirinya.
Nah berkaitan dengan resiko yang harus dihadapi jika kita hendak memulai investasi di
forex, diperlukan kiat-kiat khusus untuk memperkecil, atau bahkan membalikkan posisi
kita yang tadinya minus menjadi kembali positif dan memperoleh untung.
Berikut beberapa kiat dan manajemen resiko yang bisa Anda ambil:

1. Cut loss
Merupakan aksi menutup posisi Anda yang berlawanan dengan pergerakan harga pasar.
Cut loss digunakan untuk membatasi kerugian yang dialami sehingga tidak menimbulkan
kerugian yang lebih besar lagi.

Sebagai contoh, katakanlah kita sedang membuka posisi kita pada GBPUSD Open Buy
pada harga 1.8000. Membuka posisi Buy berarti kita mengharapkan harga naik melebihi
1.8000 sehingga kita memperoleh untung. Harapan kita harga bergerak misalnya hingga
1.8100 sehingga kita bisa memperoleh profit 100 point. Namun apa daya, ternyata harga
bergerak berlawanan dengan yang kita harapkan. Ternyata harga bergerak turun terus
menerus dari 1.8000 menjadi 1.7980 dan masih menunjukkan tendensi turun.
Nah daripada kita mengalami kerugian lebih lanjut dan akhirnya mengalami margin call
maka lebih baik posisi ditutup meskipun kita menanggung kerugian 20 point (1.8000
menjadi 1.7980 = -20 point). Aksi ini dinamakan cut loss yaitu menutup posisi yang
merugi guna mencegah kerugian yang lebih besar.

Detail Kasus Lainnya:
Tuan A membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8850 dengan jumlah quantity 10000.
Tuan A memprediksi bahwa tak lama lagi dia bisa melikuidasi posisinya tersebut pada
1.8900. Oleh karena itu dia membuat Risk Manajemen untuk posisinya: Stop Loss di
1.8800 dan Stop Limit pada 1.8900.
Ternyata harga bergerak turun tak menentu hingga kisaran 1.8820.
Dengan segala pertimbangan, Tuan A ingin menutup begitu saja posisinya pada 1.8825.
Sehingga Tuan A rugi 25 point (1.8825-1.8850 = -0.0025)
Profit dan Loss dihitung dengan rumus sebagai berikut
Diketahui:
Posisi Close: 1.8825
Posisi Open: 1.8850
Quantity: 10000
Maka:
Profit/Loss = (1.8825 - 1.8850) x 10000
Loss = -0.0025 x 10000
Loss = $-25 (Tuan A mengalami kerugian $25)

2. Switching
Aksi ini mirip dengan cut loss, namun bedanya setelah menutup posisi kita yang merugi,
kita
membuka posisi baru dengan arah yang sama dengan pergerakan harga pasar.
Pada kasus yang sama dengan cut loss diatas, maka kita menutup posisi kita di 1.7980
lalu kita membuka sebuah posisi baru Open Sell karena harga cenderung mengalami
penurunan. Dengan demikian jikalau harga terus turun katakanlah mencapai 1.7900 maka
secara keseluruhan kita mengalami loss 20 point namun memperoleh profit sebesar 80
points (1.7980-1.7900 = 80) sehingga total kita masih memperoleh profit 60 points.
Contoh kasus:
Mr. X memperkirakan harga akan NAIK. Jadi untuk mendapat keuntungan dia
memutuskan membeli (Buy) dengan harapan harga akan naik sehingga dia bisa menjual
dengan harga yang lebih mahal dan mendapat selisih Keuntungan. Tapi ternyata
bukannya naik, malah TURUN harganya.
Dan setelah analisa ulang, Mr. X berkesimpulan perkiraannya bahwa harga akan naik
ternyata SALAH. Jadi apa yang harus dia lakukan ? Daripada melawan harga pasar dan
menderita kerugian, lagipula harga akan turun lebih jauh dari sekarang Dia memutuskan
menutup posisi Buy nya yang merugi dan kemudian membuka posisi baru Sell (dengan
harapan harga akan turun). Dan ternyata harga terus turun sehingga dia mengalami
keuntungan melebihi kerugian yang diterima di posisi Buy yang dia tutup sebelumnya.
Kemudian dia menutup posisi Sell tersebut dan menerima keuntungan.
Tips Untuk Anda:
a. Lakukan hanya bila prediksi keuntungan switching melebihi nilai kerugian posisi pertama yang akan ditutup.
b. Kalau ternyata harga berubah ternyata sesuai dengan prediksi pertama, maka anda akan menderita kerugian 2 kali, yaitu posisi pertama dan posisi kedua juga

Detail Kasus:
Tuan A membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8850 dengan jumlah Quantity 30000.
Tuan A memprediksi bahwa tak lama lagi dia bisa melikuidasi posisinya tersebut pada
1.8900. Oleh karena itu dia membuat Risk Manajemen untuk posisinya: Stop Loss di
1.8800 dan Stop Limit pada 1.8900. Ternyata harga bergerak turun tak menentu hingga
kisaran 1.8820. Dengan segala pertimbangan, Tuan A ingin menutup begitu saja
posisinya pada 1.8825. Sehingga Tuan A rugi 25 point (1.8825-1.8850 = -0.0025)
Diketahui:
Posisi Close: 1.8825
Posisi Open: 1.8850
Quantity: 30000
Maka:
Profit/Loss = (1.8825 - 1.8850) x 30000
Loss = -0.0025 x 30000
Loss = $-75 (Tuan A mengalami kerugian $75)
Kemudian Tuan A menganalisa lagi dan memprediksi harga dan diketahui harga akan
terus bergerak turun, maka Tn. A membuka posisi Sell dengan Quantity sebanyak 20000
pada 1.8820. Tak beberapa lama harga terus turun hingga berada di kisaran 1.8730. Pada
akhirnya Tn. A menutup posisinya pada 1.8740. Tuan A mendapatkan keuntungan 80
point (1.8820 - 1.8740 = 0.0080)
Profit/Loss = (1.8820 - 1.8740) x 20000
Profit = 0.0080 x 20000
Profit = $160
Keseluruhan hasil dari dua trading tadi adalah
Trading I = -$75
Trading II = $160
Laba = $160 - $75 = $85 atau Rp765.000,- ($1 = Rp 9000)
3. Averaging
Cara ini memerlukan modal ekstra untuk mempertahankan posisi yang telah kita buka
yang ternyata bergerak berlawanan dengan harga pasar.
Katakanlah pada kasus yang sama dengan contoh Cut Loss diatas, maka jika kita hendak
melakukan aksi averaging maka kita membuka posisi baru namun dalam hal ini tidak
seperti switching yang menutup posisi kita yang mengalami kerugian lalu membuka
posisi baru yang berlawanan dengan posisi kita yang sebelumnya dengan alasan harga
telah bergerak turun. Pada averaging kita tidak menutup posisi kita yang telah dibuka
(pada kasus ini Open Buy) lalu bahkan kita menambahinya dengan membuka posisi baru
dengan arah yang sama yaitu Open Buy kembali!
Mengapa demikian? Bukankah kita telah melakukan Open Buy sebelumnya dan
mengalami kerugian, lalu mengapa kita melakukan Open Buy kembali? Alasannya
sederhana, kita berharap karena harga telah turun maka harga akan kembali naik sehingga
ketika kita melakukan aksi Open Buy yang kedua diharapkan harga bergerak naik bahkan
melampaui Open Buy kita yang pertama sehingga kita memperoleh keuntungan ganda.

Contoh Kasus:
Mr. X memprediksi bahwa harga akan naik maka dia membuka posisi Buy. Namun harga
ternyata bergerak turun. Mr. X segera menganalisa lagi dan kesimpulannya harga hanya
akan turun sesaat dan akan kembali naik sesuai analisa sebelumnya Dia memutuskan
membuka posisi buy baru saat harga turun sehingga ketika harga naik kembali dia bukan
hanya memiliki 1 posisi yang profit tapi 2 sekaligus. Ternyata benar, tidak lama
kemudian harga naik dan kemudian Mr. X menutup kedua posisi nya tersebut, yang
pertama dan yang kedua.

Detail Kasus:
Tuan A membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8850 dengan jumlah Quantity
20000. Tuan A memprediksi bahwa tak lama lagi dia bisa
melikuidasi posisinya tersebut pada 1.8900. Oleh karena itu
dia membuat Risk Manajemen untuk posisinya: Stop Loss di 1.8800 dan Stop Limit pada
1.8900.
Ternyata harga terkoreksi dan bergerak turun hingga 1.8825.
Tuan A kembali membuka posisi Buy GBP/USD pada 1.8825 dengan jumlah
10000. Dia juga memasang Stop Loss di 1.8800 dan Stop Limit pada 1.8900.
Lalu tak lama kemudian harga kembali terkoreksi dan menyentuh 1.8900.
Dengan demikian Tuan A mendapatkan 2 keuntungan dari 2 posisi yang telah dibuka :
Posisi I :
Profit/Loss = (1.8900 - 1.8850) x 200000
Profit = 0.0050 x 20000
Profit Posisi I = $100
Posisi II :
Profit/Loss = (1.8900 - 1.8825) x 10000
Profit = 0.0075 x 10000
Profit Posisi II = $75
Jumlah Profit kedua posisi : $160 + $75 = $235 atau Rp2.115.000,- ($1 = Rp9000)
Ketiga manajemen resiko diatas sangat sederhana dan mudah untuk dilakukan. Jadi,
betapa sayangnya kita mengalami kerugian hanya karena kita tidak mengetahui hal
diatas. Namun apakah dengan mengetahui ketiga manajemen resiko tersebut kita
dipastikan tidak pernah mengalami loss?

Jawabannya tentu saja tidak. Kalau Anda cermati, ketiga manajemen resiko diatas
bertumpu pada satu hal: kemampuan kita menganalisa pergerakan harga. Ya, memang
itulah inti dari forex trading. Manajemen resiko bahkan tidak pernah menjadi efektif
apabila kita tidak mampu melakukan analisa dengan benar dan akurat. Jadi, mengetahui
analisa adalah keharusan dalam memulai investasi di forex trading.

Masih banyak yang harus dipelajari dalam memasuki dan berinvestasi didunia forex. Kita
baru saja mempelajari bagian terluar dari investasi ini. Yang penting kita belajar dan
belajar terus.
good Luck

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar